Robantv.co.id | Istilah agama telah lama diserap ke dalam Bahasa Indonesia dan berasal dari Bahasa Sanskerta. Dalam Bahasa Jawa, kata ini diadaptasi menjadi agomo atau igama. Kata agama kemudian digunakan sebagai padanan istilah religion dari Bahasa Inggris, yang pada dasarnya menyerap kata Latin religio atau re-ligere.
Namun, dalam sejarah bahasa dan pemaknaan konseptual, kedua istilah tersebut tidak identik.

Pemaknaan Istilah
Agama secara etimologis bermakna kebiasaan atau tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam pengertian ini, agama tidak secara inheren berkaitan dengan Tuhan atau entitas supranatural, melainkan merupakan sistem nilai, adat, dan praktik budaya yang dijaga lintas generasi.
Sebaliknya, religi merujuk pada suatu sistem kepercayaan yang menempatkan entitas supranatural sebagai pusat sistem, sekaligus menjadi dasar penyusunan ritual yang bersifat kodifikatif—ditentukan tata urutan, protokol, dan aturan bakunya. Santo Agustinus menambahkan makna re-ligere sebagai “mengikat kembali” atau “mempersatukan”, yakni ikatan antara manusia dengan entitas ilahi.
Dalam Bahasa Arab, dikenal istilah dien, yang bermakna patuh atau taat. Dien menunjuk pada suatu sistem yang harus dipatuhi secara menyeluruh. Konsep ini mengerucut kuat dalam Islam. Dienul Islam dipahami sebagai sistem kepatuhan yang mengatur tata cara hidup, perilaku, dan perbuatan manusia.
Baik religi maupun dien sama-sama memasukkan unsur keyakinan terhadap entitas supranatural sebagai pusat sistem. Sementara itu, agama, dalam pengertian aslinya, tidak secara eksplisit memuat unsur tersebut, melainkan berakar pada tradisi dan adat yang diwariskan.
Klasifikasi Konseptual
Dengan kerangka ini, maka pada tahun 2025, yang dapat disebut agama adalah sistem-sistem tradisi seperti Kejawen, Hindu, Buddha, Konghucu, Tao, Zen, RA, serta ribuan sistem tradisi lain yang diperkirakan berjumlah lebih dari 4.197.
Adapun yang dapat dikategorikan sebagai religi (re-ligere) adalah Yahudi (Judea), Kristen, dan Islam (Muhammadin). Ketiga sistem ini menambahkan elemen struktural berupa nabi dan kitab suci. Nabi diposisikan sebagai individu yang dianggap dipilih oleh entitas supranatural untuk memimpin umat, sedangkan kitab suci berfungsi sebagai kodifikasi tata cara hidup, perilaku, dan perbuatan.
Yahudi memiliki Tanakh, Kristen memiliki Injil (Bibel), dan Islam memiliki Al-Qur’an.
Proses Historis dan Kultural
Dalam perjalanan sejarah, Tanakh di tangan bangsa Yahudi berkembang dengan penambahan Torah dan berbagai kitab lain. Kekristenan kemudian terlepas dari dominasi Yahudi dan berpindah ke tangan bangsa Romawi, yang merawat sekaligus memodifikasi ajarannya. Islam lahir di Jazirah Arab (Hijaz), mencapai kejayaannya di tangan bangsa Persia, serta mengalami proses penambahan, pengurangan, dan penggabungan unsur, termasuk pengaruh Zoroastrianisme. Pada dasarnya, bangsa Persia tetap mempertahankan akar Zoroaster, yang kemudian termanifestasi dalam wajah modern Islam Persia, yakni Syiah.
Sementara itu, Sunni merupakan wajah modern Islam yang telah dimodifikasi oleh bangsa Saracen atau Ismaili. Islam Nusantara adalah wajah Islam yang telah diasimilasi oleh kebudayaan Jawa. Karena itu, Islam Jawa sering disebut sinkretik, berbeda dengan Islam Sumatra Barat dan Aceh (Pasai) yang mengklaim diri sebagai Islam murni—meskipun deklarasi kulturalnya berbunyi: Agama bersendi adat, adat bersendi agama.
Akar Mitologis
Unsur-unsur mitologis dalam Bibel dan Al-Qur’an memiliki akar kuat dalam mitologi Mesopotamia. Kisah penciptaan manusia dari tanah liat tercatat dalam epik Athra-Hasis dan Enuma Elish; kisah banjir besar Nabi Nuh memiliki paralel dalam epik Gilgamesh. Konsep malaikat kembar seperti Munkar–Nakir, Raqid–Atid, serta Jibril–Izrail menunjukkan jejak kuat dari kosmologi Zoroaster.
Motif serupa juga termaktub dalam Mahabharata, yang secara kronologis lebih tua dari Al-Qur’an, melalui figur-figur seperti Nakula–Sadewa, Betoro Aswan–Aswin, Citronggo–Citroseno, Balaupata–Cingkarabala, dan Taptanus–Santanus.
Konsep Ketuhanan
Dalam Kejawen dan Kapitayan, konsep ketuhanan bersifat tidak sibuk—tidak mencampuri urusan sehari-hari manusia, tidak mengelola alam semesta secara aktif, dan tidak memiliki budak.
Sebaliknya, konsep Tuhan yang “sibuk” berasal dari tradisi Mesopotamia. Nama Tuhan tersebut berubah-ubah sejak abad ke-18 SM: Elia, Anunnaki, Marduk, lalu diadopsi oleh bangsa Yahudi dan dimodifikasi menjadi Elohim dan Yahweh. Dalam kosmologi Mesopotamia, Tuhan selalu memiliki budak, yakni manusia yang diciptakan dari tanah liat.
Opini
Sunan Tedjo Pekalongan


Komentar