Kesehatan Nasional Pemerintahan Pertanian RobanTV
Beranda / RobanTV / Skandal MBG Batang: Makanan Basi, Sertifikasi Nol, Hak Siswa Dipreteli?

Skandal MBG Batang: Makanan Basi, Sertifikasi Nol, Hak Siswa Dipreteli?

IMG 20251128 WA0001

Robantv.co.id | Batang – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) semestinya menjadi tameng agar anak-anak belajar tanpa kelaparan. Tapi kenyataan di Kabupaten Batang justru memunculkan ironi: makanan basi, telur busuk, hingga kasus keracunan. Alih-alih menyehatkan, program ini malah seperti eksperimen yang membahayakan masa depan siswa.

‎Kemarahan publik akhirnya tumpah dalam audiensi panas antara Koalisi Masyarakat Pengawas Anggaran dan Birokrasi (Komparasi) dengan Komisi IV DPRD Batang, Rabu (27/11/25). Ruang rapat penuh tekanan. Semua pihak hadir: SPPI sebagai pengelola dapur, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pertanian.

‎Komparasi membeberkan fakta: banyak penyedia belum memiliki SLHS maupun NKV, dua syarat wajib agar dapur layak memproduksi makanan untuk anak sekolah.

‎Yang lebih mencengangkan, saat terjadi keracunan, biaya pengobatan justru dibiayai APBD. Uang rakyat dipakai menambal kelalaian penyedia.

‎“Kalau sampai ada korban jiwa, siapa yang bertanggung jawab? Uang rakyat itu bukan asuransi untuk kesalahan bisnis,” tegas Rizal Arifianto, Ketua Komparasi.

Semarak Harlah ke-16 SMK Islam Randudongkal: Ribuan Peserta Antusias Ikuti Jalan Sehat Berhadiah Motor

‎Komparasi juga menyoroti distribusi kuota yang tak merata: sekolah yang mampu justru kecipratan kuota, sekolah miskin malah terpinggirkan.

‎Kepala Dinas Pendidikan Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, ikut “curhat”:

‎“Kami tidak pernah dilibatkan dalam penetapan dapur maupun pembagian kuota. Kalau ada masalah baru kami dipanggil.”

‎Koordinator SPPI, Puji Lestari, menyebut kasus makanan basi sudah diberi sanksi: porsi tak layak tidak dibayar, dipotong dari insentif mitra. Keracunan di Kandeman? Disebutnya sudah ditanggung penyedia.

‎Soal banyak dapur tanpa sertifikasi? Ia menyebut masih proses. Kendalanya: pemasok daging bersertifikat masih minim.

Budi Harsudiono Seto Aji Resmi Dilantik sebagai Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mulia Pemalang

‎“Supplier wajib taat aturan. Kami terus percepat,” ujar Puji.

‎Puncak panas terjadi ketika Ketua Komisi IV DPRD Batang, H. Tofani Dwi Arieyanto, SH, buka suara soal laporan pungutan dalam pelaksanaan MBG.

‎“Ada potongan Rp200 – Rp2.000 per porsi. Kalau benar, kualitas makanan jelas akan turun,” tegasnya.

‎Ia menekankan: anggaran Rp10.000 per porsi harus “mendarat” utuh di piring siswa. “Jangan ada yang makan jatah anak-anak. Titik.”

‎Komisi IV siap membentuk Satgas MBG. Mereka akan turun ke dapur, audit standar pangan, dan telusuri alur dana sampai pusat jika perlu.

Rantansari betta contest se-jawa 2026 berlangsung meriah, semarang betta squad kuasai podium utama

‎Walau tensi rapat mendidih, semua sepakat: program ini tak boleh dihentikan. Siswa tetap harus makan, tapi penyimpangan harus disikat habis.

‎Publik menolak MBG berubah menjadi makanan basi gratis—olok-olok pahit dari program negara yang seharusnya mulia.

‎Audiensi ditutup dengan janji: pembenahan total sebelum generasi Batang menjadi korban program yang dikerjakan asal-asalan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Profil | Redaksi | Pedoman Media Siber | Perlindungan Profesi Wartawan | Kode Etik Jurnalistik | Kebijakan Privasi