Robantv.co.id | Batang — Ditengah sorotan dan desakan warga yang menuntut keterbukaan pengelolaan keuangan desa, Kepala Desa Sawahjoho, Zaenal Abidin, memilih berdiri pada satu garis yang menurutnya tak pernah ia tinggalkan: transparansi.
Zaenal menegaskan, sejak awal pihaknya merasa telah menjalankan tata kelola pemerintahan desa secara terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan. Baginya, kritik warga adalah bagian dari dinamika demokrasi desa, namun bukan berarti pemerintah desa bekerja dalam gelap.
“Kami tidak menutup-nutupi apa pun. Semua proses sudah berjalan sesuai mekanisme,” ujarnya.
Namun, Zaenal juga tak menampik bahwa persoalan Bumdes Anugrah Baru menjadi titik yang paling sering dipersoalkan warga. Ia mengungkapkan, hingga saat ini dirinya menerima empat proposal kegiatan Bumdes yang belum ia tandatangani. Alasannya sederhana namun krusial: masih banyak hal yang perlu dikaji dan dipertimbangkan secara matang.
Menurutnya, tanda tangan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab jangka panjang terhadap penggunaan uang desa.
Disisi lain, Zaenal juga membenarkan adanya satu program Bumdes yang hingga kini belum terealisasi, padahal anggaran sudah dikucurkan. Program tersebut adalah budidaya peternakan lele, salah satu dari tiga program utama Bumdes.
Yang membuat situasi makin rumit, hingga kini Zaenal mengaku belum menerima penjelasan pasti dari Direktur Bumdes terkait penyebab mandeknya program tersebut.
“Sampai sekarang saya juga belum mendapat konfirmasi jelas, kenapa budidaya lele itu belum berjalan,” katanya terus terang.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan Bumdes, menurut Zaenal, bukan sepenuhnya berada di tangan pemerintah desa, melainkan juga menyangkut manajemen internal Bumdes itu sendiri.
Ditengah tuntutan warga dan sorotan publik, satu hal menjadi jelas: bola panas Bumdes Anugrah Baru masih menggelinding, menunggu kejelasan, penjelasan, dan langkah nyata agar kepercayaan publik tak terus terkikis.


Komentar