Robantv.co.id I Batang – Di usianya yang ke-69, A.S seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Namun, pengalaman pahit justru ia rasakan saat mengurus surat rujukan di Puskesmas Batang 1 Proyonanggan, Kabupaten Batang. Bukan sekadar soal administrasi, ia harus berhadapan dengan sikap petugas yang dinilainya ketus dan mempersulit.
Selasa (3/3/2026) siang, kepada Robantv.co.id, A.S mendatangi puskesmas dengan niat sederhana: meminta surat rujukan untuk pemeriksaan lanjutan. Namun, alih-alih mendapat pelayanan ramah, ia justru disambut dengan nada ketus dari petugas bagian administrasi.
“Orang itu ngrusuhi saja,” ujar A.S menirukan ucapan petugas tersebut dengan nada kecewa.
Beda Perlakuan, Beda Nasib
Yang membuat A.S semakin miris, ia melihat pasien lain dengan keperluan serupa justru dilayani dengan baik. Matanya awas memperhatikan, hatinya perih saat menyadari bahwa dirinyalah yang mendapat perlakuan berbeda.

“Saya hanya minta rujukan, kok dipersulit. Saya lihat orang lain yang datang dengan maksud yang sama, minta rujukan, tapi dilayani dengan baik. Sementara perlakuan terhadap saya seperti ini,” keluhnya dengan suara bergetar.
Menurut A.S, hanya satu orang petugas yang berjaga di bagian ruang pemeriksaan saat ia datang. Situasi ini membuatnya harus menunggu lebih lama, sementara kondisinya yang sudah lanjut usia tak memungkinkan untuk berlama-lama.
Sepotong Kertas vs Surat Resmi
Bukan hanya soal cara pelayanan, A.S juga menyoroti prosedur administratif yang dinilainya janggal. Saat meminta surat rujukan, ia hanya diberikan selembar kertas bertuliskan tangan dengan masa berlaku hanya satu bulan. Padahal, berdasarkan pengalamannya selama ini, surat rujukan seharusnya berlaku tiga bulan dan dicetak secara resmi.
*”Saya sudah tua, untuk meminta surat rujukan saya dipersulit. Paling saya hanya diberikan sobekan kertas tulis tangan dengan masa berlaku hanya 1 bulan. Seharusnya surat rujukan berlaku 3 bulan dengan kertas print-printan resmi,”* tuturnya.
A.S yang hampir setiap hari harus memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang menurun berharap ada perbaikan. Ia tak ingin pengalaman pahit ini terulang, baik untuk dirinya maupun pasien lansia lainnya.
Harapan di Tengah Kekecewaan
Di sela-sela kekecewaannya, A.S masih menyimpan harapan. Ia berharap pimpinan Puskesmas Batang 1 Proyonanggan segera turun tangan menangani persoalan ini.
“Saya datang hari Senin dan Selasa. Kecewa sekali. Semoga kasus ini segera ditangani,” ucapnya lirih, meninggalkan ruangan puskesmas dengan perasaan campur aduk.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Puskesmas Batang 1 Proyonanggan belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan pasien lansia tersebut. Sementara itu, A.S harus pulang dengan membawa selembar kertas rujukan dan kekecewaan yang mengendap di hati. (red)


Komentar