Robantv.co.id | Batang – Disebuah ruang perawatan anak di RSUD Kalisari Batang, seorang balita tampak terbaring lemah. Tubuhnya kecil, kulit perutnya mengerut, matanya sayu. Sulit membayangkan, bocah berusia 2 tahun 5 bulan asal Desa Lebo, Kecamatan Gringsing itu pernah lahir dengan berat badan 4,2 kilogram—angka yang bahkan tergolong ideal dan sehat untuk ukuran bayi baru lahir.
Namun waktu, keadaan keluarga, dan minimnya pengawasan kesehatan perlahan mengubah semuanya.
Kini, berat badannya hanya tersisa 6,2 kilogram.
Dokter Spesialis Anak RSUD Kalisari Batang, dr. Tan Evi Susanti, masih mengingat jelas kondisi pasien kecil itu ketika pertama kali masuk rumah sakit pada Jumat, 8 Mei 2026. Bocah tersebut datang dalam keadaan sangat lemah, pucat, dan mengalami kekurangan gizi berat.
“Kulit perutnya keriput seperti jeruk alum yang layu,” ungkap dr. Tan Evi, Sabtu 9 Mei 2026.
Kalimat itu bukan sekadar gambaran medis. Itu potret nyata tentang tubuh kecil yang terlalu lama kekurangan asupan nutrisi.
Menurut dr. Tan Evi, kemunduran kondisi anak mulai terlihat sejak usia satu tahun. Kemampuan motoriknya yang sempat berkembang perlahan menghilang. Jika dulu masih mampu berdiri sambil berpegangan, kini tubuhnya hanya mampu bergerak miring ke kanan dan kiri.
“Dulu sempat bisa rambatan. Sekarang hanya bisa miring-miring saja. HB-nya juga sangat rendah, hanya 4, sehingga anak tampak pucat dan mudah rewel,” jelasnya.
Tim medis bahkan terpaksa memasang selang makan atau nasogastric tube (NGT) lantaran pasien kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi secara normal.
Asupan makanan sehari-harinya dinilai sangat jauh dari cukup. Sang anak hanya makan dalam porsi kecil dan tidak teratur. Bahkan saat diberi tahu goreng, ia hanya mencuil bagian tepungnya sedikit demi sedikit.
Di balik kondisi medis itu, tersimpan persoalan keluarga yang tidak kalah pelik.
Balita tersebut diketahui berasal dari keluarga yang telah bercerai. Saat ini ia diasuh oleh nenek dari pihak ayah. Ibunya bekerja di Semarang dan disebut sudah lama jarang pulang maupun menemui anaknya. Sementara sang ayah hanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Situasi ekonomi yang sulit membuat pola pengasuhan dan pemenuhan gizi anak tidak berjalan maksimal.
Yang paling memprihatinkan, pemantauan kesehatan anak ternyata nyaris terputus sejak bayi. Berdasarkan catatan di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), terakhir kali bocah itu dibawa ke Posyandu saat berusia lima bulan. Saat itu, berat badannya masih dalam kategori normal.
Setelahnya, tidak ada lagi pemantauan tumbuh kembang maupun kontrol gizi secara rutin.
Tanpa pengawasan berkala, kondisi tubuh anak terus menurun hingga akhirnya mencapai fase kritis dan harus dirawat intensif di rumah sakit.
Kini, tim medis RSUD Kalisari Batang masih berupaya menstabilkan kondisi tubuh pasien dan mengejar kebutuhan nutrisinya secara bertahap. Di saat bersamaan, kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan gizi buruk pada anak bukan semata soal makanan, melainkan juga tentang pengawasan, perhatian keluarga, dan jaring perlindungan sosial yang kerap terputus di tengah jalan.


Komentar