RobanTV
Beranda / RobanTV / Diantara Aroma Malam dan Lantunan Selawat, Batik Rifaiyah Menunggu Generasi Baru

Diantara Aroma Malam dan Lantunan Selawat, Batik Rifaiyah Menunggu Generasi Baru

IMG 20260429 WA0130


Robantv.co.id | BATANG — Ruang workshop di Joglomberan, Rabu (29/4/2026), dipenuhi kesibukan yang tenang. Uap malam dari wajan kecil naik perlahan, bercampur suara percakapan para peserta yang duduk mengitari kain-kain putih. Canting bergerak pelan, meninggalkan jejak lilin yang kelak menjelma motif penuh makna.

‎Tetapi hari itu, yang sedang dirawat bukan hanya seni membatik. Yang dijaga adalah warisan tua bernama Batik Rifaiyah identitas budaya Batang yang kini menghadapi tantangan serius: berkurangnya pewaris tradisi.
‎Pegiat literasi, perajin batik, hingga unsur Pemerintah Kabupaten Batang berkumpul dalam satu agenda bersama.

Mereka ingin memastikan Batik Rifaiyah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
‎Batik Rifaiyah dikenal berbeda dari kebanyakan batik lain. Ia tumbuh dari tradisi masyarakat Rifaiyah dan memiliki nuansa spiritual yang kuat.

Dalam proses pembuatannya, para pembatik kerap melafalkan selawat. Karena itu, setiap lembar kain bukan hanya hasil kerajinan tangan, tetapi juga cermin nilai dan keyakinan.

‎Di tengah kekhawatiran akan masa depan batik tersebut, Miftakhutin, salah satu penggerak komunitas, menyebut dukungan berbagai pihak sebagai energi baru bagi para perajin.

‎“Kami merasa lebih bersemangat. Dukungan seperti ini penting sekali, karena komunitas tidak mungkin berjalan sendirian. Ketika pemerintah hadir dan peduli, teman-teman jadi semakin yakin untuk terus berkarya.”

‎Menurutnya, pelestarian budaya memerlukan kerja bersama. Komunitas menjaga tradisi dari dalam, sementara pemerintah membantu membuka jalan lewat pembinaan, promosi, dan perhatian nyata.

‎Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa Faiz, menilai Batik Rifaiyah memiliki nilai sejarah yang besar. Meski keberadaannya telah melintasi lebih dari satu abad, pengenalannya kepada pasar umum baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

‎“Ini batik yang sangat khas. Umurnya sudah panjang, tetapi dikenal masyarakat luas justru belum lama. Artinya, potensinya masih sangat besar untuk terus dikembangkan.”

‎Namun perkembangan itu dibayangi kenyataan pahit. Sejumlah motif lama kini tak lagi ditemukan. Jika dulu tercatat puluhan ragam corak, kini sebagian telah hilang seiring wafatnya para pembatik senior yang belum sempat menurunkan ilmunya.

‎Kondisi tersebut mendorong langkah cepat dilakukan. Pemerintah daerah melalui Dekranasda mulai melakukan pendataan motif, memperluas promosi, serta membawa Batik Rifaiyah ke pameran nasional agar semakin dikenal.
‎Bagi Faelasufa, jalan penyelamatan budaya juga harus dibarengi peningkatan nilai ekonomi.

‎“Kalau batik ini memberi penghasilan yang layak, generasi muda akan melihat bahwa membatik bukan sekadar tradisi, tetapi juga masa depan.”

‎Ia juga mendorong sikap terbuka agar proses belajar membatik tidak dibatasi kelompok tertentu. Menurutnya, semakin banyak orang mempelajari Batik Rifaiyah, semakin besar peluang warisan itu bertahan.

‎Workshop hari itu pun terasa lebih dari sekadar kegiatan pelatihan. Ia menjadi simbol bahwa Batik Rifaiyah masih diperjuangkan. Bahwa di tengah perubahan zaman, masih ada tangan-tangan yang rela telaten menorehkan canting, agar kisah lama tetap hidup dalam bentuk baru.
‎Dan selama masih ada yang mau belajar, Batik Rifaiyah belum akan kehilangan harapan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Profil | Redaksi | Pedoman Media Siber | Perlindungan Profesi Wartawan | Kode Etik Jurnalistik | Kebijakan Privasi