RobanTV
Beranda / RobanTV / Dari Dapur Pendopo ke Meja Keluarga: Festival Gemarikan Batang Angkat Ikan Jadi Ikon Gizi dan Gengsi

Dari Dapur Pendopo ke Meja Keluarga: Festival Gemarikan Batang Angkat Ikan Jadi Ikon Gizi dan Gengsi

IMG 20260430 WA0068

Robantv.co.id | BATANG,— Di halaman Pendopo Kabupaten Batang, Kamis (30/4/2026), wangi laut tidak datang dari ombak, melainkan dari panci dan panggangan. Ikan—yang selama ini akrab sebagai lauk sederhana—di tangan para peserta Festival Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) berubah rupa: lebih berani, lebih cantik, dan jelas lebih menggoda.

Ada 40 tim yang turun gelanggang: 25 dari kategori umum dan 15 dari TP PKK se-Kabupaten Batang. Mereka tidak sekadar memasak; mereka “mengangkat derajat” bahan lokal. Ikan digubah menjadi menu berkelas, plating rapi, rasa dirancang serius—persis seperti dapur profesional, hanya saja panggungnya milik publik.

Wakil Bupati Batang, , membuka acara dengan pesan yang sederhana tapi menohok: biasakan makan ikan, bukan sesekali, tapi setiap hari. Ia menyinggung kebiasaan makan ikan di luar Jawa sebagai contoh yang sudah terbukti.

“Ikan itu kaya protein dan omega-3. Ini investasi kesehatan jangka panjang,” ujarnya di lokasi. Ia bahkan menambahkan, pola konsumsi yang konsisten—pagi, siang, malam—adalah kunci yang ingin ditiru di Batang.

Festival ini bukan sekadar pesta rasa. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Batang, , menegaskan ada agenda yang lebih serius: menekan angka stunting lewat dapur.

Satu Gol Jadi Pembeda, Super Priba Kukuhkan Diri sebagai Kampiun Futsal Batang

“Kami ingin masyarakat terampil mengolah ikan, mengenal produk olahan perikanan, dan menjadikannya menu harian. Tujuannya jelas—perbaikan gizi dan penurunan stunting,” kata Budi.

Di titik ini, dapur berubah jadi alat kebijakan. Logikanya sederhana: ikan melimpah, harga relatif terjangkau, dan kandungan gizinya tinggi. Tinggal satu yang sering jadi penghambat—cara mengolah. Festival ini menjawab celah itu dengan kreativitas yang mudah ditiru di rumah.

Kemeriahan tak berhenti di tungku. Gelaran ini juga merembet ke ruang digital dan ekonomi rakyat:

  • Lomba video tantangan makan ikan diikuti 23 peserta, memancing kreativitas konten gizi.
  • Lomba video senam Gemari melibatkan 34 sekolah, energi anak muda diarahkan ke kampanye sehat.
  • Bazar UMKM menghadirkan 45 produk dari 20 pelaku usaha perikanan—dari olahan siap santap hingga camilan berbasis ikan.
  • Lelang ikan segar membuka akses langsung ke hasil tangkapan nelayan: dorang, cumi-cumi, kembung, hingga layur.

Pesannya jelas: ikan tidak lagi sekadar lauk pinggiran. Ia naik kelas—jadi identitas, jadi peluang usaha, sekaligus jadi strategi kesehatan.

Pemerintah Kabupaten Batang tampak membaca momentum ini dengan jeli. Jika dapur rumah tangga berubah, peta kesehatan ikut bergeser. Dan kalau ikan sudah jadi kebiasaan, bukan kampanye musiman, maka generasi yang lahir dari meja makan itu punya peluang lebih besar tumbuh sehat, kuat, dan—yang paling penting—tidak lagi akrab dengan stunting.

Curug Putut: Keindahan yang Menyimpan Duka, Lima Nyawa Melayang di Tebing Sunyi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Profil | Redaksi | Pedoman Media Siber | Perlindungan Profesi Wartawan | Kode Etik Jurnalistik | Kebijakan Privasi